JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Hujan sudah mulai turun di beberapa daerah, tetapi bukan berarti El Niño selesai. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), puncak El Niño tahun ini justru diperkirakan datang menjelang akhir tahun, saat musim hujan mulai berjalan. Kekuatannya bahkan diprediksi melebihi kategori kuat. El Niño adalah kondisi ketika suhu laut di tengah Samudra Pasifik naik lebih dari 0,5 derajat Celsius dari normal. Dampaknya ke Indonesia biasanya membuat hujan berkurang dan kemarau terasa lebih kering. BMKG juga menyebut kemarau tahun ini diperkirakan lebih kering dan lebih panjang dari biasanya. Menurut BMKG, El Niño tahun ini diperkirakan bertahan sampai awal 2027. Kekuatannya naik dengan cepat. Pada akhir Maret, BMKG masih menilai peluang El Niño menjadi kuat kurang dari 20 persen. Pada pemutakhiran Juni, peluang itu naik menjadi 62 persen, lalu menjadi 98 persen tidak lama setelahnya. Data suhu laut BMKG pada September menunjukkan Pasifik tengah sudah hampir 3 derajat Celsius lebih hangat dari normal. Saat melihat peta suhu laut BMKG, perbedaannya terlihat jelas. Pasifik tengah berwarna merah tua, sedangkan perairan di sekitar Indonesia tidak terlalu panas dan di beberapa bagian selatan malah terlihat lebih dingin. Warna merah dan cokelat di peta menandakan laut lebih hangat dari biasanya, sedangkan biru menandakan lebih dingin. Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, pernah menjelaskan bahwa dampak El Niño di Indonesia juga dipengaruhi panasnya laut di sekitar kita, seperti dikutip CNN Indonesia. Jadi, dampaknya tidak selalu sama setiap tahun. Ardhasena juga menegaskan bahwa dampak El Niño terasa ketika bertemu langsung dengan musim kemarau. Walaupun El Niño masih berlangsung sampai awal 2027, dampak utamanya ada di masa kemarau. Dalam konferensi pers 30 Juli, ia menyebut puncak El Niño diperkirakan sekitar Desember 2026 atau Januari 2027, seperti dikutip Kompas.tv. Sisa kemarau itu masih terlihat di peta BMKG. Peta-peta ini bisa dilihat siapa saja di situs BMKG, mulai dari peta suhu laut sampai peta hari tanpa hujan. Pada peta hari tanpa hujan, titik merah yang artinya lebih dari 60 hari tanpa hujan menumpuk di selatan Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Artinya, di daerah itu hujan belum turun dalam waktu sangat lama. Peta tingkat kemudahan terbakar untuk awal Oktober juga dipenuhi warna merah di Jawa, Nusa Tenggara, dan sebagian Sumatera, Kalimantan, serta Sulawesi. Warna merah di peta itu berarti lahan sangat mudah terbakar. Gambaran ini menunjukkan betapa keringnya kondisi di banyak daerah sebelum hujan tiba. BMKG menyebut lima provinsi prioritas pemantauan kebakaran hutan dan lahan, yaitu Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, dan Jambi. Menurut BMKG, puncak kemarau jatuh pada Agustus di hampir separuh wilayah Indonesia. Kemarau sendiri diperkirakan berakhir sekitar pertengahan Oktober, lalu hujan masuk bertahap. Pemerintah ikut bersiap. Dalam rapat terbatas pada 28 Juli, Presiden Prabowo Subianto meminta jajarannya menjaga ketersediaan air dan mencegah kebakaran hutan dan lahan. Untuk menjaga ketersediaan air selama masa peralihan, BMKG melakukan modifikasi cuaca, salah satunya di Danau Toba supaya air untuk irigasi, air bersih, dan pembangkit listrik tetap terjaga. BMKG juga menyebut gejala lain di Samudra Hindia yang disebut IOD positif diperkirakan muncul September sampai Desember. Jika bersamaan dengan El Niño, kekeringan bisa lebih parah dan lebih lama. Karena itu, BMKG juga memberi saran ke berbagai sektor. Petani didorong mempercepat waktu tanam sebelum kekurangan air mencapai puncaknya dan memilih tanaman yang cepat panen. Untuk kesehatan, BMKG meminta pemantauan kualitas udara dan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Justru setelah hujan datang, BMKG meminta kita waspada. Pada rapat yang sama, Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan persiapan sekarang juga untuk menghadapi akhir tahun, "ketika hujan kembali datang", saat ada ancaman bencana hidrometeorologi basah seperti siklon tropis, yaitu sistem badai yang bisa membawa hujan lebat dan angin kencang. Maksudnya, bencana yang dipicu hujan dan cuaca, bukan kekeringan. Sejumlah media juga melaporkan Faisal menyebut hujan musim ini normal tetapi durasinya lebih pendek, sehingga banjir dan longsor ikut dikhawatirkan. Hujan memang dinanti setelah berbulan-bulan kering. Namun, hujan yang mulai turun belum berarti masalah selesai. Kemarau akan berakhir, tetapi El Niño diperkirakan baru mencapai puncaknya saat musim hujan berjalan. Ardhasena menegaskan bahwa tidak ada satu kejadian El Niño yang selalu sama dengan sebelumnya. Artinya, pengalaman tahun lalu belum tentu cukup untuk menebak apa yang terjadi beberapa bulan ke depan. Masih ada beberapa bulan sebelum puncak yang diperkirakan itu tiba, jadi persiapan masih bisa dilakukan. Untuk saat ini, masyarakat tetap perlu memantau informasi resmi BMKG.