NETRALNEWS.COM - Masalah ketimpangan akses internet di Indonesia masih jadi pekerjaan rumah yang belum selesai. Ketika warga di kota-kota besar sudah terbiasa dengan jaringan kabel fiber optik atau sinyal 5G. warga di kawasan Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T) justru sering kesulitan mendapatkan sinyal seluler yang stabil hanya untuk sekadar berkirim pesan. Namun, peta jaringan internet di Indonesia mulai berubah sejak masuknya teknologi satelit Low Earth Orbit (LEO), seperti Starlink. Berbeda dengan satelit komunikasi jaman dulu yang posisinya sangat tinggi (sekitar 35.000 kilometer dari bumi). satelit LEO mengorbit jauh lebih rendah di kisaran 500 sampai 1.200 kilometer saja. Karena jaraknya lebih dekat ke bumi, penundaan sinyal atau latency-nya jadi jauh lebih kecil dan kecepatannya bisa menyaingi internet kabel. Solusi untuk Fasilitas Publik di Pelosok Bagi wilayah Indonesia yang penuh pulau dan pegunungan seperti Papua atau NTT, menarik kabel fiber optik di dasar laut atau membangun pemancar di atas gunung butuh biaya yang sangat besar dan waktu bertahun-tahun. Di sinilah internet satelit jadi pilihan yang paling masuk akal.Dampak dari internet satelit ini paling terasa pada fasilitas pelayanan publik di daerah terpencil, terutama sekolah dan puskesmas. Puskesmas di desa-desa pelosok sekarang bisa terhubung langsung ke sistem data kesehatan pusat, mengurus rujukan pasien secara online, sampai menjalankan konsultasi medis jarak jauh tanpa perlu pusing memikirkan sinyal yang mendadak hilang. Di sektor pendidikan, sekolah-sekolah di daerah terisolasi juga mulai terbantu. Siswa dan guru tidak lagi ketinggalan informasi saat harus mengakses materi belajar digital atau saat mengikuti Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK). Secara tidak langsung, ketersediaan internet ini membantu mengurangi selisih kualitas pendidikan antara desa dan kota. Gesekan Bisnis dengan Pengusaha Internet Lokal Meskipun menawarkan internet cepat di tempat terpencil, masuknya penyedia layanan satelit LEO ke pasar Indonesia bukannya tanpa kendala. Langkah ini sempat memicu penolakan dari pengusaha internet lokal terkait iklim persaingan usaha. Ketua umum Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII), Muhammad Arif, menyoroti pentingnya kesetaraan aturan antara operator lokal dengan penyedia atelit asin. Operator lokal merasa sudah keluar modal besar untuk membangun menara pemancar (BTS) dan jaringan kabel di berbagai daerah, sehingga mereka khawatir pasarnya tergerus oleh satelit asing yang bisa langsung jualan ke konsumen akhir. Menurut pakar telekomunikasi dari institut teknologi bandung (ITB), Ian Joseph Matheus Edward, penyedia satelit LEO idealnya difungsikan sebagai penyambung sinyal (Backhaul) bagi operator lokal di daerah pelosok. Bukan untuk merusak pasar ritel yang sudah ada.Dalam kondisi ini, pemerintah lewat Kementerian Komunikasi dan Digital harus mengambil posisi yang adil. Langkah seperti mewajibkan adanya stasiun bumi (gateway) di dalam negeri, mengurus izin operasional resmi, serta mendorong kerja sama antara penyedia satelit LEO dan penyedia internet lokal adalah jalan keluar yang tepat. Satelit LEO bisa dimanfaatkan oleh operator lokal sebagai penyambung sinyal (backhaul) ke menara pemancar di daerah yang sulit dijangkau. Masalah Kedaulatan Data dan Keamanan Selain masalah persaingan bisnis, ada hal penting lain yang harus diperhatikan, yaitu keamanan data dan kedaulatan negara. Ketika lalu lintas internet warga, fasilitas kesehatan, sampai instansi pemerintah daerah menggunakan jaringan satelit milik perusahaan asing. Hal itu dapat menciptakan risiko kebocoran data pribadi menjadi lebih tinggi. Pemerintah harus memastikan seluruh data pengguna di Indonesia tetap tunduk pada aturan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP). Pengawasan dan audit terhadap stasiun bumi yang ada di Indonesia wajib dilakukan secara berkala agar tidak ada penyalahgunaan data.Di sisi lain, masuknya satelit asing ini mestinya tidak membuat Indonesia lupa untuk terus mengembangkan infrastruktur satelit sendiri, seperti memaksimalkan penggunaan Satelit Republik Indonesia (SATRIA) yang sudah dimiliki pemerintah. Menuju Pemerataan Akses Digital Kehadiran teknologi satelit LEO membuktikan bahwa kondisi geografis sebenarnya bukan lagi alasan utama untuk membiarkan suatu daerah terisolasi dari internet. Di masa sekarang, akses internet cepat bukan lagi barang mewah, melainkan kebutuhan dasar agar masyarakat bisa mendapatkan fasilitas pendidikan dan layanan publik yang setara. Lompatan teknologi ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin untuk meratakan akses internet di seluruh Indonesia. Dengan aturan yang jelas, perlindungan terhadap industri dalam negeri, serta pengawasan data yang ketat, teknologi satelit ini bisa membantu masyarakat dari Sabang sampai Merauke untuk menikmati fasilitas digital yang sama.