JAKARTA - Kemunculan kecerdasan buatan (AI) memang membuat banyak hal terasa lebih mudah dan cepat. Namun, di dunia pendidikan, terutama di universitas, teknologi ini justru menimbulkan kekhawatiran: apakah AI membuat mahasiswa jadi malas berpikir kritis dan cenderung mencontek? Selama bertahun-tahun, dosen telah memakai alat seperti Turnitin, Chat Zero, dan Draftback untuk mendeteksi plagiarisme. Tapi dengan maraknya penggunaan AI seperti ChatGPT, tantangan baru pun muncul. Contohnya, seorang dosen di Universitas Illinois, Jocelyn Leitzinger, menemukan banyak mahasiswanya menulis esai menggunakan ChatGPT karena semua karya mereka menampilkan karakter bernama Sally nama yang sering muncul dalam contoh teks buatan AI. Akibatnya, 180 mahasiswa ketahuan menyontek menggunakan AI, bahkan saat menulis esai tentang penyalahgunaan AI itu sendiri. Sebuah penelitian dari MIT (Institut Teknologi Massachusetts) juga menemukan bahwa mahasiswa yang menggunakan ChatGPT justru mendapat nilai lebih rendah dibandingkan mereka yang menulis tanpa bantuan AI. Penelitian tersebut menguji tiga kelompok mahasiswa: 1. Kelompok pertama memakai ChatGPT. 2. Kelompok kedua menggunakan internet untuk mencari referensi. 3. Kelompok ketiga menulis tanpa bantuan digital, hanya membaca bahan bacaan. Hasilnya, kelompok ketiga menunjukkan aktivitas otak paling tinggi dan pemahaman paling baik, karena mereka benar-benar memproses informasi dan berpikir kritis sendiri. Sebaliknya, pengguna ChatGPT kesulitan menjelaskan isi tulisan dan sumber referensinya. Selain itu, penggunaan AI juga memicu konflik hukum.Mahasiswi bernama Ella Stapleton dari Universitas Northeastern menggugat kampusnya karena dosennya ternyata membuat soal tugas menggunakan ChatGPT, padahal universitas tersebut melarang penggunaan AI baik oleh mahasiswa maupun dosen. Ia protes karena merasa tidak adil dan menilai tidak pantas membayar mahal untuk tugas yang dibuat oleh AI. Kasus lain terjadi di Massachusetts, ketika wali murid menggugat SMA karena anaknya dihukum setelah memakai AI untuk mengerjakan tugas, sementara sekolah tidak memiliki aturan yang jelas soal pelarangan AI. Sebagai respons, beberapa universitas seperti Texas A&M University kini kembali ke cara tradisional: semua ujian dan tugas harus ditulis tangan di atas kertas untuk mencegah kecurangan dengan AI. Asosiasi Kolese dan Universitas Amerika Serikat (ACU) melaporkan bahwa 90 persen dosen percaya mahasiswa menggunakan AI untuk mengerjakan tugas. Namun, menurut C. Edward Watson, Wakil Ketua Bidang Inovasi Digital ACU, tantangannya bukan melarang AI, melainkan mengarahkan penggunaannya untuk inovasi, bukan kecurangan. Dalam konferensi nasional AI di Universitas Ohio (Februari 2024), para akademisi menilai bahwa perkembangan AI menjadi titik penting bagi peradaban manusia — bisa menjadi pendorong kemajuan, tetapi juga berpotensi menjerumuskan jika disalahgunakan. Dosen Sastra Inggris Universitas Ohio, Paul Shovlin, menekankan bahwa AI dapat membuka akses luas terhadap literasi global. Ia berharap AI digunakan untuk mempersonalisasi pembelajaran agar sesuai kebutuhan masing-masing mahasiswa melalui kerja sama antara dosen dan mahasiswa.