JAKARTA - Siloam Hospitals Kebon Jeruk mencatat milestone baru dalam layanan jantung nasional melalui keberhasilan implantasi HeartMate 3™ LVAD (Left Ventricular Assist Device) pada pasien gagal jantung stadium lanjut. Capaian ini diumumkan dalam Press Conference bertajuk "A Heartbeat of History: Detak Kedua, Kisah Harapan di Balik LVAD Pertama" yang digelar di CGV Central Park, Jakarta Barat, Selasa (29/9/2026). LVAD merupakan pompa jantung buatan yang dipasang melalui prosedur bedah untuk mengambil alih fungsi bilik kiri jantung yang sudah gagal memompa darah ke seluruh tubuh. Teknologi ini menjadi solusi bagi pasien gagal jantung lanjut yang tidak lagi responsif terhadap obat-obatan. Hadir sebagai narasumber Executive Director Siloam Hospitals Group Inge Samadi, Hospital Director Siloam Kebon Jeruk dr. Melissa,MARS spesialis jantung dan pembuluh darah dr. Leonardo Paskah Suciadi, FIHA, FAPSC, FESC, FHFA, serta spesialis bedah toraks kardiovaskular dr. Maizul Anwar, Sp, BTKV, Subsp, JD (K) dan dr. Sugisman, Sp, BTKV, Subsp, JD (K). Harapan Baru Agar Tak Perlu Berobat ke Luar Negeri Executive Director Siloam Hospitals Group, Inge Samadi menyebut keberhasilan ini bukan sekadar prosedur operasi, melainkan milestone strategis. "Ini memberikan harapan baru bagi pasien gagal jantung lanjut di Indonesia. Saat ini tidak perlu ke luar negeri, cukup konsultasi di Siloam Hospitals Kebon Jeruk dengan multidisiplin tim yang kompeten," ujar Inge. Untuk dapat melakukan prosedur kompleks ini, dibutuhkan kapabilitas multidisiplin mulai dari kardiolog, bedah jantung, anestesi, radiologi, rehab medik, perawat cardiac ward hingga psikolog. Teknologi 25 Tahun yang Baru Hadir di Swasta Indonesia Spesialis jantung dan pembuluh darah dr. Leonardo Paskah Suciadi, FIHA, FAPSC, FESC, FHFA, menjelaskan LVAD bukan teknologi baru. Di dunia sudah ada lebih dari 25 tahun, dengan generasi terbaru HeartMate 3 sudah digunakan 10 tahun terakhir. Namun Indonesia tertinggal jauh. Singapura sudah implantasi sejak 2009, Malaysia 2010, dan Filipina 2017. Data registri internasional Intermacs menunjukkan, pasien gagal jantung lanjut tanpa LVAD angka harapan hidupnya hanya di bawah 50% dalam 1 tahun. Dengan LVAD, survival rate mencapai 64% dalam 5 tahun, dan pada pasien usia di bawah 50 tahun mencapai 76%, hampir setara transplantasi jantung. "Di Siloam Kebon Jeruk sendiri, 8% dari total pasien gagal jantung kami berada di fase lanjut. Selama ini hanya bisa terapi paliatif. Sekarang ada opsi LVAD," jelas dr. Paskah. Ia menyebut tiga tantangan LVAD belum populer di Indonesia: rendahnya awareness masyarakat tentang gagal jantung, minimnya dokter subspesialis gagal jantung - baru 6 orang di Indonesia, dan biaya alat yang sangat tinggi. Kisah Pak Khoir: Dari Vonis 20% Kini Dapat Kesempatan Kedua Dalam konferensi pers, dihadirkan pasien penerima LVAD pertama, Pak Khoir. Pria yang bekerja di perkebunan sejak 2019 itu awalnya hanya didiagnosis GERD karena sering sesak saat berjalan jauh. Pada 2023 ia dirujuk ke Siloam Kebon Jeruk dan diketahui pompa jantungnya hanya tersisa 20% akibat kardiomiopati genetik. "Vonis gagal jantung lanjut saya kini bisa menjalani kualitas hidup lebih baik. Saya bersyukur kepada Tuhan dengan bantuan teknologi dan tim dokter Siloam," ujar Pak Khoir sambil menunjukkan tas berisi monitor dan dua baterai cadangan yang selalu ia bawa. Menurut dr. Sugisman, pasien LVAD harus menjaga sinkronisasi antara jantung asli dan pompa buatan. Perawatan meliputi pemantauan speed alat, perawatan luka, serta edukasi penggunaan baterai. Kini, pasca satu bulan operasi, Pak Khoir mengaku sudah bisa beraktivitas hampir normal. Alatnya bahkan sensitif terhadap emosi, akan berbunyi saat ia bermimpi atau sedih. Melalui keberhasilan ini, Siloam Hospitals Kebon Jeruk akan terus mengembangkan Advanced Cardiac Care Clinic yang terintegrasi mulai dari deteksi dini, diagnostik, terapi hingga monitoring pasca operasi, agar pasien tidak lagi harus melirik ke luar negeri.