YUANYANG – Pemanfaatan teknologi modern semakin mengubah aktivitas pertanian di kawasan Terasering Hani Yuanyang, Provinsi Yunnan, Tiongkok barat daya. Pada musim panen tahun ini, petani memanfaatkan drone untuk mengangkut padi hasil panen dari area persawahan yang berada di lereng-lereng perbukitan. Drone tersebut mampu membawa muatan hingga 50 kilogram padi dalam sekali penerbangan dengan melintasi bukit serta permukiman warga. Kehadiran teknologi ini mempercepat proses distribusi hasil panen yang sebelumnya mengandalkan tenaga manusia maupun hewan angkut. Terasering Hani Yuanyang sendiri merupakan kawasan yang memiliki tiga pengakuan internasional, yakni Warisan Budaya Dunia, Sistem Warisan Pertanian Penting Global, dan Warisan Teknik Irigasi Dunia. Di tengah statusnya sebagai warisan berusia ribuan tahun, kawasan ini kini mulai mengadopsi berbagai inovasi pertanian modern. Pada masa lalu, petani harus menempuh jalur pegunungan yang curam dan berliku untuk membawa hasil panen menggunakan kuda atau dipikul secara manual. Kini, satu karung padi dapat diangkut drone dalam waktu kurang dari 10 menit untuk perjalanan pulang-pergi. Waktu tersebut jauh lebih singkat dibandingkan metode tradisional yang memerlukan lebih dari 40 menit. Selain lebih cepat, biaya operasional drone juga dinilai lebih ekonomis dibandingkan penggunaan tenaga kerja. Inovasi juga diterapkan dalam proses penanaman padi. Tahun ini, wilayah Niujiaozhai menguji penggunaan teknologi padi perenial berbasis lembaran kertas tanam yang dikembangkan Universitas Yunnan. Benih padi ditempatkan pada kertas ramah lingkungan yang dapat terurai secara alami sebelum langsung ditebarkan ke lahan sawah. Metode tersebut mampu memangkas kebutuhan tenaga kerja secara signifikan. Pekerjaan yang sebelumnya memerlukan dua hingga tiga orang selama satu hari penuh untuk memindahkan bibit kini dapat diselesaikan hanya dalam waktu dua hingga tiga jam. Teknisi pertanian setempat, Pu Wei, yang telah bekerja selama 26 tahun di kawasan tersebut, mengatakan bahwa penerapan varietas padi baru, teknologi inovatif, serta sistem pertanian terpadu padi-ikan-bebek merupakan upaya untuk menekan biaya produksi sekaligus meningkatkan pendapatan petani. Meski demikian, sejumlah pekerjaan masih harus dilakukan secara manual, seperti memeriksa saluran irigasi, membersihkan parit, mengeruk sawah, hingga melakukan perawatan rutin. Karena itu, kehadiran teknologi tidak sepenuhnya menggantikan tenaga manusia dalam aktivitas pertanian. Selain mengembangkan sektor pertanian, masyarakat setempat juga mengintegrasikan kawasan terasering dengan sektor pariwisata dan perdagangan elektronik produk pertanian. Langkah tersebut membuka lapangan pekerjaan baru dan mendorong banyak pekerja migran kembali ke kampung halaman karena tersedia peluang usaha di daerah sendiri. Untuk mendukung pengembangan ekonomi desa, koperasi perdesaan dibentuk guna mengoordinasikan kegiatan usaha sekaligus memperluas pemasaran produk pertanian. Kehadiran koperasi tersebut turut berkontribusi terhadap peningkatan pendapatan masyarakat. Lu Zhengxing, warga Desa Duoyishu, mengenang masa ketika dirinya merantau mencari pekerjaan pada 2005 dengan bekal hanya 40 yuan. Saat itu, sebagian besar uang yang dimilikinya habis untuk ongkos perjalanan. Melalui kerja keras selama bertahun-tahun, Lu kini berhasil memiliki dan mengelola homestay sendiri di kampung halamannya. Ia mengaku senang melihat generasi muda saat ini tidak lagi harus meninggalkan desa untuk mencari nafkah. Saat ini, lebih dari 100 pemuda lokal bekerja di sektor perhotelan, kuliner, dan logistik di Desa Duoyishu dengan penghasilan yang dinilai cukup baik. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa perpaduan antara teknologi, kerja keras masyarakat, dan dukungan kebijakan mampu menjaga keberlanjutan terasering kuno sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga setempat.