QINGDAO - Proses penggalian menggunakan mesin berperisai untuk terowongan jalan raya bawah laut terpanjang di Tiongkok telah rampung pada Jumat (2/10). Mesin tersebut berhasil mencapai titik yang telah ditentukan pada kedalaman 105 meter di bawah permukaan laut Teluk Jiaozhou, Provinsi Shandong, Tiongkok timur. China Railway Construction Corporation Limited mengungkapkan penyelesaian tahap penggalian tersebut menjadi bagian penting dari pembangunan Terowongan Kedua Teluk Jiaozhou Qingdao. Infrastruktur tersebut dirancang untuk menghubungkan kawasan perkotaan utama Qingdao dengan Kawasan Baru Pesisir Barat Qingdao, yang berstatus sebagai kawasan baru tingkat nasional. Proyek ini memiliki panjang keseluruhan 17,48 kilometer, dengan bagian terowongan utama mencapai 14,37 kilometer. Struktur tersebut terdiri atas dua terowongan utama dan satu terowongan layanan yang berada di antara keduanya. Masing-masing arah perjalanan akan memiliki tiga lajur jalan. Terowongan itu dirancang untuk mendukung kendaraan dengan kecepatan hingga 80 kilometer per jam. Menurut Wang Junping dari China Railway 14th Bureau Group Corporation Limited, pembangunan terowongan menerapkan dua metode konstruksi, yakni pengeboran dan peledakan (drill-and-blast) serta penggalian menggunakan mesin berperisai. Pekerjaan konstruksi dilakukan dari dua sisi Teluk Jiaozhou. Penggalian dimulai dari pesisir timur dan pesisir barat hingga kedua bagian terowongan tersebut bertemu di bawah dasar laut. Kondisi bawah laut menjadi salah satu tantangan utama proyek. Bagian terowongan utama yang menggunakan mesin berperisai berada pada kedalaman maksimum 95 meter di bawah permukaan laut. Sementara itu, terowongan layanan mencapai 105 meter sehingga menghadapi tekanan air yang tinggi. Karena kondisi tersebut, pembangunan membutuhkan sistem penutupan serta lapisan kedap air dengan standar yang ketat untuk memastikan keamanan struktur. Wang mengatakan tim proyek juga menerapkan teknologi baru untuk menangani material hasil penggalian. Untuk pertama kalinya, mereka menggunakan sistem pembuangan material yang menggabungkan konveyor sekrup, kotak penghancur batu, dan mesin penghancur batu. Penggunaan sistem tersebut meningkatkan efisiensi pekerjaan sekaligus menekan risiko terjadinya penyumbatan. Selain itu, tim mengembangkan teknologi antigetar untuk badan mesin bor berperisai guna meningkatkan kestabilan selama proses penggalian. Setelah seluruh pembangunan rampung, terowongan baru itu akan menjadi bagian dari jaringan transportasi bertingkat yang melintasi Teluk Jiaozhou. Infrastruktur tersebut akan terhubung dengan Terowongan Teluk Jiaozhou, Jembatan Teluk Jiaozhou, dan Jalan Raya Teluk Jiaozhou yang telah beroperasi. Pembangunan infrastruktur transportasi tersebut juga sejalan dengan kebijakan Tiongkok untuk meningkatkan kualitas layanan transportasi terpadu. Pada Juli tahun ini, Kementerian Transportasi Tiongkok mengumumkan rencana untuk mendorong pembangunan berkualitas tinggi di sektor layanan transportasi terpadu selama periode Rencana Lima Tahun ke-15 2026-2030. Rencana tersebut menargetkan terbentuknya sistem layanan transportasi terpadu modern pada 2030. Melalui kebijakan tersebut, Tiongkok akan memperkuat keterhubungan berbagai moda transportasi dan mempermudah mobilitas penumpang. Peningkatan layanan logistik barang juga menjadi bagian dari rencana tersebut. Selain itu, pemerintah Tiongkok akan mendorong keterpaduan antara transportasi dan pariwisata, meningkatkan kualitas layanan di pusat-pusat transportasi, serta memperkuat layanan angkutan penumpang, barang, dan pengiriman di kawasan pedesaan.