JAKARTA, NETRALNEWS.COM- Musim 2004-2005 merupakan musim yang tak terlupakan bagi Liverpool, terutama dalam perjalanan mereka menjuarai Liga Champions. Dikenang sebagai salah satu pencapaian terbesar dalam sejarah sepak bola, kemenangan dramatis di final Liga Champions melawan AC Milan. Kisah ini dikenal sebagai "The Miracle of Istanbul," di mana Liverpool bangkit dari ketinggalan 0-3 untuk akhirnya memenangkan pertandingan melalui adu penalti. Musim itu dimulai dengan Liverpool berada di bawah manajer baru, Rafael Benítez, yang didatangkan dari Valencia pada musim panas 2004. Meskipun kesulitan di Premier League, di mana mereka finis di posisi kelima, Liverpool justru menunjukkan kekuatan mereka di Liga Champions. Namun, perjalanan mereka di Eropa tidak dimulai dengan mudah. Liverpool tergabung di Grup A bersama AS Monaco, Olympiakos, dan Deportivo La Coruña. Setelah menang melawan Monaco di Anfield pada pertandingan pertama, Liverpool mengalami kekalahan dari Olympiakos di Yunani dan Monaco di laga tandang. Situasi mereka menjadi genting, dan nasib mereka tergantung pada pertandingan terakhir fase grup melawan Olympiakos di Anfield. Pada 9 Desember 2004, Liverpool menghadapi Olympiakos dengan misi wajib menang dengan selisih dua gol untuk lolos ke babak 16 besar. Pertandingan dimulai dengan cemas ketika Rivaldo mencetak gol untuk Olympiakos dari tendangan bebas, sehingga Liverpool membutuhkan tiga gol untuk lolos. Di babak kedua, Benítez memasukkan gelandang muda Steven Gerrard yang menjadi inspirasi dalam kebangkitan Liverpool. Florent Sinama-Pongolle dan Neil Mellor mencetak gol untuk membawa Liverpool unggul 2-1, namun mereka masih membutuhkan satu gol lagi untuk lolos. Pada menit ke-86, Gerrard melakukan tendangan keras dari luar kotak penalti yang menembus gawang Olympiakos. Gol ini mengirim Liverpool ke babak 16 besar dan menjadi salah satu momen paling ikonik dalam sejarah klub. Di babak 16 besar, Liverpool bertemu dengan Bayer Leverkusen. Mereka memenangkan leg pertama dengan skor 3-1 di Anfield dan kemudian menegaskan dominasi mereka dengan kemenangan 3-1 di Jerman, lolos ke perempat final dengan agregat 6-2. Di perempat final, Liverpool bertemu Juventus, tim kuat dari Italia. Pada leg pertama di Anfield, Liverpool tampil impresif dan menang 2-1. Sami Hyypiä membuka skor sebelum Luis García mencetak gol spektakuler dari jarak jauh. Di leg kedua di Turin, Liverpool bermain defensif dengan sangat baik, berhasil menahan Juventus tanpa gol untuk lolos ke semifinal dengan agregat 2-1. Semifinal mempertemukan Liverpool dengan sesama tim Inggris, Chelsea, yang sedang dalam puncak kejayaan di bawah manajer José Mourinho. Leg pertama di Stamford Bridge berakhir imbang 0-0, memberikan Liverpool peluang untuk menyelesaikan tugas di Anfield. Leg kedua di Anfield pada 4 Mei 2005 menjadi salah satu pertandingan paling mendebarkan dalam sejarah klub. Pada menit ke-4, Luis García mencetak gol kontroversial yang dikenal sebagai "Gol Hantu" (Ghost Goal), ketika bola tampaknya belum sepenuhnya melewati garis, namun wasit menyatakan gol. Liverpool mempertahankan keunggulan itu sepanjang sisa pertandingan, meski menghadapi tekanan berat dari Chelsea. Mereka lolos ke final dengan agregat 1-0, mengirim mereka ke Istanbul untuk menghadapi AC Milan. Final Liga Champions 2005 berlangsung pada 25 Mei 2005 di Atatürk Stadium, Istanbul. Lawan mereka, AC Milan, datang sebagai favorit, dengan skuad yang dipenuhi pemain bintang seperti Paolo Maldini, Andrea Pirlo, Kaka, Hernán Crespo, dan Andriy Shevchenko. Pertandingan dimulai dengan mimpi buruk bagi Liverpool. Paolo Maldini mencetak gol hanya 50 detik setelah peluit kick-off. Hernán Crespo kemudian menambah dua gol pada menit ke-39 dan ke-44, membuat Milan unggul 3-0 di babak pertama. Banyak penggemar Liverpool merasa harapan sudah hilang. Namun, di babak kedua, Rafael Benítez membuat perubahan taktikal yang luar biasa. Dietmar Hamann masuk menggantikan Steve Finnan, memberi Liverpool lebih banyak stabilitas di lini tengah. Hasilnya luar biasa. Pada menit ke-54, Steven Gerrard mencetak gol sundulan yang memulai kebangkitan. Hanya dua menit kemudian, Vladimir Smicer, yang tampil sebagai pengganti, mencetak gol dari luar kotak penalti. Skor berubah menjadi 3-2. Pada menit ke-60, Gerrard dijatuhkan di kotak penalti, dan wasit menunjuk titik putih. Xabi Alonso maju sebagai eksekutor. Tendangannya awalnya diselamatkan oleh kiper Milan, Dida, tetapi Alonso dengan cepat menyambar bola rebound untuk menyamakan kedudukan menjadi 3-3. Dalam rentang waktu enam menit, Liverpool telah mengejar ketertinggalan tiga gol, dan stadion menjadi hiruk-pikuk. Babak tambahan berlanjut dengan kedua tim saling menyerang, tetapi kiper Liverpool, Jerzy Dudek, menjadi pahlawan dengan serangkaian penyelamatan luar biasa, termasuk penyelamatan ikonik dari tendangan Shevchenko dari jarak dekat. Pertandingan akhirnya berlanjut ke adu penalti. Serginho gagal mengeksekusi penalti pertama Milan, tendangannya melambung tinggi. Hamann mencetak penalti pertama Liverpool. Dudek kemudian menggagalkan tendangan Pirlo, sementara Smicer mencetak penalti untuk Liverpool. Milan akhirnya gagal lagi ketika Shevchenko, pemain bintang mereka, tidak berhasil menembus Dudek. Liverpool memenangkan adu penalti 3-2 dan menjadi juara Liga Champions 2005.