JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Denny Siregar meramalkan kelak kelompok yang sebut sebagai “Kadrun” akan semakin kecil dan tak punya teman karena gerakan Islam Moderat akan semakin membesar. “Di tengah arus Islam moderat yang semakin berkembang dan lebih fokus pada pengetahuan daripada meributkan syariat mana yang paling benar..,” kata Denny Siregar melalui akun FB-nya, Kamis 20 Januari 2022. “Kadrun kelak akan sendirian. Kecil dan gak punya teman,” kata Denny meramalkan masa mendatang. Mengenai pandangan tentang Islam Moderat, sebenarnya sering mengemuka. Pada 2017 silam, gagasan mengembangkan Islam Moderat juga menjadi bahasan menarik dalam seminar Internasional yang digelar Universitas Al Azhar bertema "Peran Perguruan Tinggi dalam Penguatan Pemikiran Islam Moderat", Jakarta, Senin, 14 Agustus 2017. Seminar ini dihadiri Sekretaris Jenderal Rabithah Alam Islamy Mohammad Abdulkarim Alissa. Dalam acara tersebut, Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Hidayat Nur Wahid membuka seminar dan menyampaikan pandangan yang cukup menarik. Hidayat mengatakan Indonesia tidak hanya besar dalam jumlah penduduk beragama Islam, tapi juga jumlah pendidikan Islam. "Indonesia juga terbesar di dunia dalam jumlah pesantren, pendidikan Islam, dan perguruan tinggi Islam. Ini yang sering dilupakan," katanya. Meski besar dalam segi kuantitas, lanjut Hidayat, persoalannya adalah bagaimana meningkatkan kualitas pendidikan Islam. Hidayat memberi contoh tentang penguasaan bahasa asing, seperti Arab serta Inggris. "Kemampuan bahasa asing seperti, Arab, Inggris, juga Cina perlu dikuatkan," ujarnya. Menurut Hidayat, Indonesia adalah satu-satunya negara yang memasukkan tujuan pendidikan dalam konstitusi. Pasal 31 ayat 3 menyebutkan pemerintah menyelenggarakan suatu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Kemudian Pasal 31 ayat 5 berbunyi pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi agama serta persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban juga kesejahteraan umat manusia. "Dengan demikian, pendidikan menyeimbangkan iman, takwa, akhlak mulia dengan kecerdasan, serta ilmu pengetahuan dan teknologi, dengan menjunjung tinggi agama," tuturnya. Dengan kata lain, pendidikan yang berkualitas, termasuk di perguruan tinggi, menghasilkan (pemikiran) Islam yang moderat. Ini menegaskan arus besar bukanlah ateisme, sekularisme, atau radikalisme, melainkan moderat. "Yang ingin dikembangkan adalah Islam yang moderat. Islam yang jauh dari intoleran serta radikal. Islam yang rahmatan lil alamin," ujarnya seperti dinukil tempo.co. Seminar internasional ini merupakan kerja sama antara Moeslem World League yang berpusat di Mekkah dan Universitas Al Azhar Indonesia. Hadir dalam seminar ini Rektor UAI Ahmad H. Lubis, Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia Jimly Ashiddiqie, Din Syamsuddin, juga Gubernur DKI Jakarta terpilih Anies Baswedan.