KOTA MALANG, NETRALNEWS.COM - Masyarakat Indonesia umumnya sangat kenal dengan "Jangka Jayabaya" atau yang sering disebut sebagai Ramalan Jayabaya. Hal ini berbanding lurus dengan keinginan masyarakat Indonesia khususnya orang Jawa yang mendambakan sesosok pemimpin yang sangat adil. Serat Jangka Jayabaya dipercayai memiliki peran dan pengaruh terhadap perjalanan kehidupan bangsa Indonesia meskipun masih diselimuti kontroversial di dalamnya. Walaupun bernama Ramalan Jayabaya, salah satu karya sastra yang berbentuk pengetahuan lokal ini tidak datang langsung dari Prabu Jayabaya yang berasal dari Kadiri. Malahan karya tulis ini baru digubah di masa yang sangat jauh. Moh. Hari Suwarno (1983) menjelaskan bahwa Ramalan Jayabaya bersumber dari sebuah kitab yang ditulis oleh Sunan Giri III atau Sunan Giri Prapen pada tahun 1618 Masehi, yakni Kitab Musasar. Serat Jangka Jayabaya tertua dan otentik yaitu karangan Pangeran Wijil I atau yang dikenal dengan Pangeran Kadilangu II yang dikarang pada tahun 1741-1743 Masehi. Terlepas dari itu, pada masa pemeritahan Prabu Jayabhaya kesustraan mulai berkembang, di mana karya sastra jadi alat legitimasi penguasa. Raja Jayabhaya hadir bukan tanpa sebuah karya momumental, di mana ia menggubah Kakawin Bharatayuddha pada tahun 1079 saka sebagai pengambaran dari peritiwa yang terjadi pada masa itu juga, yakni peristiwa perebutan tahta. Adapun Kakawin Hariwangsa ditulis oleh Mpu Panuluh sebagai salah satu ramalan-ramalan yang diyakini berasal dari Raja Jayabaya (kadang ditulis Jayabhaya) —ada kemungkinan bahwa salah satu dari sumber penulisan Jangka Jayabaya adalah dari Kakawin Hariwangsa ini— karena secara khusus sang raja meminta dituliskan sebuah kakawin yang berdasarkan keinginanya. Belum terungkap siapa sesungguhnya penulis Ramalan Jaya Baya mengingat para penulis Jawa tidak biasa mencantumkan namanya pada sebuah karya. Anda tertarik mencari siapa sosok penulis ramalan ini? Penulis: Ian Iradatillah Muhtarom