JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Rumah Teteh: Story of Helena adalah film horor terbaru yang diadaptasi dari kisah nyata yang terjadi di Bandung pada tahun 2007. Film ini juga diangkat dari sebuah novel populer, sehingga ekspektasi penonton, terutama para penggemar bukunya, cukup tinggi. Sayangnya, meskipun memiliki materi dasar yang menjanjikan, eksekusi film ini tidak sepenuhnya berhasil menghadirkan atmosfer horor yang solid. Alur cerita yang melompat-lompat dan kurang fokus menjadi salah satu kelemahan terbesar yang mengurangi dampak emosional serta teror yang seharusnya bisa lebih intens. Film ini berkisah tentang pertemanan antara manusia dan sosok gaib bernama Teteh dalam durasi 86 menit yang terasa cukup padat. Dari segi teknis, film ini memiliki potensi untuk menjadi film horor berkualitas. Jumpscare yang ditampilkan tidak terasa murahan berkat penggunaan scoring musik yang cukup efektif dalam membangun ketegangan. Namun, ada kelemahan dalam penyajian sosok Teteh, di mana kehadirannya terasa terlalu sering sehingga mengurangi unsur misteri dan membuatnya seolah menjadi pusat perhatian di hampir setiap adegan. Kembalinya sutradara Nanang Istiabudi setelah 12 tahun vakum memberikan sedikit nuansa nostalgia, terutama bagi penonton yang mengikuti film-film horornya sebelumnya. Gaya penyutradaraannya cukup baik untuk ukuran film horor modern, tetapi beberapa aspek teknis masih terasa kurang maksimal. Salah satunya adalah color grading yang tampak ketinggalan zaman dan kurang mendukung atmosfer horor yang lebih mencekam. Salah satu kelemahan terbesar film ini adalah naskahnya yang kurang matang. Beberapa karakter, seperti dua pemilik kos, memiliki peran yang tidak terlalu jelas dan kehadirannya kurang berdampak pada cerita utama. Selain itu, subplot yang ada dalam film ini juga tidak terlalu berkontribusi terhadap narasi utama. Alih-alih mengeksplorasi asal-usul keangkeran Rumah Teteh dan kaitannya dengan kisah Helena, film ini lebih banyak berfokus pada pengalaman gangguan yang dialami Brii dan teman-temannya. Akibatnya, alur cerita terasa kurang fokus dan kehilangan kedalaman yang bisa memperkuat elemen horor maupun emosionalnya. Salah satu aspek yang cukup mengecewakan adalah kurangnya eksplorasi terhadap elemen flashback yang menjadi kunci dalam novel, seperti perselingkuhan dalam rumah tangga yang menyebabkan terjadinya peristiwa tragis di Rumah Teteh. Dalam film, latar belakang ini hanya disinggung secara singkat dan kurang digali dengan baik, sehingga mengurangi dampak emosional yang seharusnya bisa membuat cerita lebih berkesan. Dari sisi teknis, sinematografi dalam film ini masih bisa dikatakan layak, meskipun penggunaan CGI dalam beberapa adegan terlihat kasar dan kurang realistis. Namun, keputusan untuk memasukkan lagu Kala Sang Surya Tenggelam dari Chrisye menjadi nilai tambah yang berhasil membangun suasana sendu dan melankolis yang pas dengan tema film. Meskipun memiliki banyak kekurangan, Rumah Teteh masih bisa dinikmati oleh mereka yang mencari hiburan horor ringan dengan unsur komedi. Beberapa adegan dan dialog mungkin terasa cringe, tetapi interaksi anak-anak kos yang konyol memberikan hiburan tersendiri di tengah ketegangan yang dihadirkan. Film ini memang bukan film horor terburuk tahun ini, tetapi juga belum bisa dikategorikan sebagai film horor yang benar-benar solid. Dengan naskah yang lebih kuat, pengembangan karakter yang lebih matang, serta eksekusi teknis yang lebih rapi, Rumah Teteh bisa menjadi film yang jauh lebih berkesan.