SOLO- “Badhe golek napa, Mas? (Mau mencari apa, Mas?)” Ucap seorang bapak berpenampilan warga lokal yang kemudian saya ketahui bernama Agus. Pertanyaan yang wajar mengingat saat itu saya berada di depan sebuah kompleks bangunan terbengkalai seraya memasang raut kebingungan. Jika tanpa dibekali informasi sebelumnya, orang akan menilai bangunan tersebut sebagai sekadar konstruksi lawas yang kapiran, tidak berguna, dan kental akan unsur mistis. Namun kedatangan saya bukan tanpa alasan atau juga tanpa modal wawasan. Melalui kunjungan tersebut, saya ingin mengobservasi langsung bangunan cagar budaya yang menjadi saksi dan bukti sejarah sistem stratifikasi era kolonial, program pembangunan infrastruktur masa Paku Buwana X, epidemi yarsinia pestis di Jawa, supremasi bisnis Orde Baru, hingga proses lahirnya Reformasi di Surakarta. Bangunan ini adalah (bekas) Rumah Sakit Kadipolo. Ya, Rumah Sakit (RS) Kadipolo adalah bangunan berstatus cagar budaya. Nahas, predikat yang diberikan dan realita di lapangan tersaji kontradiktif. Tidak terkonservasi, dihuni secara ilegal, dan kawasan uji nyali menjadi rupa RS Kadipolo masa kini. Plakat bangunan cagar budaya (BCB) pun tidak dapat dijumpai karena tertutup dengan sekat-sekat pembatas dan reruntuhan bangunan. Jika ditelusuri melalui Surat Keputusan Wali Kota Solo Nomor 646/1-R/1/2013, RS Kadipolo ditetapkan menjadi salah satu dari 69 BCB di Kota Solo dengan status “tidak berfungsi”—menjadi satu-satunya BCB dengan status tersebut. Kondisi ini semakin mengasah rasa ingin tahu saya dalam mengeksplorasi dan menulis bangunan “istimewa” tersebut. Dari Kasunanan hingga Orde Baru Menurut catatan sejarah, pendirian RS Kadipolo tidak dapat dipisahkan dari kiprah Dr. KRT Radjiman Wedyodiningrat. Ia merupakan seorang dokter Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat sejak 1906. Dalam buku Dr. KRT. Radjiman Wedyodiningrat: Hasil Karya dan Pengabdiannya (1998) menjelaskan bahwa pada masa pengabdiannya di awal abad ke-20 diwarnai intrik serius ketika pemerintah Hindia Belanda menerapkan stratifikasi yang amat tajam dalam melaksanakan pelayanan publik. Di fasilitas kesehatan milik Belanda misalnya, kaum pribumi amat termarginalkan. Melihat situasi ini, Radjiman mengusulkan pembangunan fasilitas kesehatan yang inklusif bagi kaum pribumi kepada Susuhunan Paku Buwana X, Raja Kasunanan Surakarta yang berkuasa saat itu. Ide ini lantas disambut baik oleh Paku Buwana X. Inisiasi tersebut teraktualisasi pada tahun 1915 dengan diresmikannya sebuah rumah sakit yang bernama Panti Rogo—oleh warga sekitar kerap disebut Rumah Sakit Kadipolo. Pengelolaan RS Kadipolo diserahkan seluruhnya kepada Radjiman dengan keraton sebagai pemodal utamanya. Melalui RS Kadipolo, Radjiman berhasil menciptakan pelayanan kesehatan yang terbuka, setara, dan layak, terutama bagi mereka yang disisihkan. Manfaat kian terasa pada rentang waktu tahun 1920-1930, saat Jawa dilanda epidemi pes, kolera, dan cacar akibat pola hidup-sanitasi yang buruk. Setelah 19 tahun mengabdi, Radjiman memutuskan pensiun. Tidak lama, sekitar 5 tahun selepasnya, Paku Buwana X turun takhta. RS Kadipolo mulai kehilangan ritme kerja setelah dua tokoh kunci itu hengkang. Saat republik diproklamirkan, kekuasaan monarki berbagai kerajaan di Nusantara dikebiri, termasuk Kasunanan Surakarta. Imbasnya adalah ketahanan ekonomi keraton yang melemah. Pendanaan terhadap RS Kadipolo juga terkendala. Menyebabkan performa pelayanan yang regresif dari tahun ke tahun. Hingga pada tahun 1960, pengelolaan RS Kadipolo sepenuhnya diserahkan ke Pemerintah Kota Surakarta. Selanjutnya, Panti Rogo diubah nama resminya menjadi Rumah Sakit Kadipolo. Di masa pengelolaan pemerintah, RS Kadipolo diintegrasikan dengan RS Mangkubumen (Ziekenzorg, kini bernama RSUD Dr. Moewardi) dan RS Jebres (Zending, kini dialihfungsikan menjadi Solo Paragon Mall). Buku Heritage Surakarta: Jejak-Jejak Fisik Kota Solo (2013) melaporkan bahwa integrasi yang dilakukan tidak berdampak optimal. Pemerintah memutuskan memindahkan seluruh operasional RS Kadipolo ke RS Mangkubumen pada tahun 1976. Selang waktu setahun, pada 1977, bangunan eks RS Kadipolo digunakan sebagai Sekolah Perawat Kesehatan (SPK). Sayang, eksistensi SPK Kadipolo hanya berjalan lima tahun. Pada tahun 1982 SPK dipindahkan ke Mojosongo berdasarkan perintah dari Departemen Kesehatan. Setelah beberapa saat dikosongkan, pada tahun 1985 bangunan bekas rumah sakit ini beralih fungsi menjadi sebuah mess klub sepak bola ternama pada eranya, Arseto FC. Arseto FC adalah klub sepak bola milik keluarga Cendana yang diinisiasi putra kedua Soeharto, Sigit Harjojudanto. Oleh Cendana, jargon "Mengolahragakan masyarakat, memasyarakatkan olahraga", direalisasi menjadi komoditas bisnis yang terwujud dalam rupa Arseto. Perlu diakui, Arseto adalah tim sepak bola berkategori paripurna. Pendanaan yang baik, koneksi manajemen yang luas, formasi bertabur bintang, pelatih bertangan dingin, hingga sokongan pemerintah membuat Arseto begitu digdaya. Puspanaden, mantan pemain Arseto FC yang saya jumpai saat penelusuran lapangan mengatakan bahwa Arseto adalah definisi dari sebaik-baiknya klub bola. Dan jelas, jejak sejarah kejayaan Arseto FC tidak dapat dipisahkan dari markasnya di Solo, RS Kadipolo. Saat kerusuhan tahun 1998, nasib Arseto FC relatif serupa dengan bisnis Orde Baru lainnya: dipersekusi, distigma, dan dimusnahkan. RS Kadipolo, sebagai rupa fisik Arseto FC, menjadi sasaran empuk. Saat kerusuhan terjadi di Solo, RS Kadipolo menjadi salah satu titik terparahnya. Semenjak peristiwa tersebut, RS Kadipolo menjadi terbengkalai dan terlupakan dari peradaban setempat. Pada tahun 2018 lalu, nama RS Kadipolo sempat mencuat ke permukaan. Bukannya wacana upaya revitalisasi, namun justru terlibat kasus sengketa jual beli lahan. Sengketa ini terjadi antara PT. Sekar Wijaya dan keluarga Cendana akibat terkendala status BCB. Ketiadaan transparansi dinilai menjadi akar masalahnya. Wajah Solo yang Terasingkan Bangunan seluas 2,4 hektare ini telah melampaui banyak peristiwa monumental di masa silam. Usianya kini lebih dari seabad. Perannya sebagai sarana perjuangan masyarakat inlander untuk mendapat fasilitas sosial yang setara, simbol kekuasaan Orde Baru yang begitu dominan, perjalanan historis jatuh bangunnya sepak bola nasional, hingga bukti fisik bagaimana reformasi dilahirkan di Indonesia membuat RS Kadipolo pantas disebut sebagai bangunan bernilai sejarah tinggi. Jasa yang besar bagi eskalasi peradaban masyarakat Surakarta (juga Indonesia) sayangnya tidak menjamin bangunan ini senantiasa dirawat. Hanya ada kesan negatif ketika Anda menilik bangunan RS Kadipolo versi masa kini. Pesonanya terkubur, catatannya kehilangan ruang di memori masyarakat. RS Kadipolo adalah manifestasi konkret dari jejak sejarah lokal yang kini terpendam dan terlupakan. Beberapa kajian seputar alih fungsi bangunan dengan tetap mempertahankan aspek kesejarahannya banyak dikemukakan. Misalnya sebagai civic center (Putri, Pitana, & Mustaqimah, 2021), museum kesehatan (Martin, 2022), hingga Persis Zone (Marjoko, 2017). Tujuannya jelas, menghidupkan kembali objek sejarah lokal sebagai sumber belajar, penguat identitas kolektif masyarakat lokal, dan rekam jejak perkembangan peradaban. Pemeliharaan peninggalan sejarah, terutama dalam lingkup lokal, adalah perkara serius yang jalan keluarnya perlu diupayakan banyak pihak. Seperti kata Milan Kundera, perjuangan manusia dalam melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa. DAFTAR PUSTAKA Marjoko, W. T. (2017). Perancangan Interior Training Camp dan Persis Zone di Surakarta. Surakarta: Institut Seni Indonesia. Martin, G. P. (2022). Revitalisasi Cagar Budaya Ex Rumah Sakit Kadipolo Sebagai Museum Kesehatan Berbasis Wellness Tourism. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta. Mawardi, N. K. (2010). Wabah Penyakit dan Pelayanan Kesehatan Penduduk Pada Masa Pemerintahan Mangkunegoro VII (1916-1944). Surakarta: Universitas Sebelas maret. Prasetyo, T. (2020). Antara Bisnis dan Sepak Bola di SOlo: Kiprah Klub Bola Arseto 1997-1998. Surabaya: Pustaka Indis. Putri, A. R., Pitana, T. S., & Mustaqimah, U. (2021). Pusat Kegiatan Warga (Civic Center) Sebagai Upaya Revitalisasi Bekas Rumah Sakit Kadipolo. Senthong: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Arsitektur, 725-734. Sugito. (1998). Dr. K.R.T. Rajiman Wedyodiningrat: Hasil Karya dan Pengabdiannya. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. Sumodiningrat, G., & Wulandari, A. (2014). Paku Buwono X: 46 Tahun Berkuasa di Tanah Jawa. Yogyakarta: Pustaka Narasi. Suryandari, E. S., Setyo, N., Handani, K., & dkk. (2013). Buku Heritage Surakarta: Jejak-Jejak Fisik Kota Solo. Surakarta: Dinas Tata Ruang Pemerintah Kota Surakarta. LAMPIRAN Gambar 1.1. Gerbang utama Rumah Sakit Kadipolo di Jl. Dr. Radjiman. (Sumber: Dok Pribadi) Gambar 1.2. Pemukiman warga di sekitar kawasan Rumah Sakit Kadipolo. (Sumber: Dok. Pribadi) Gambar 1.3. Gerbang barat di Jl. Rojomanggolo (Sumber: Dok. Pribadi) Gambar 1.4. Area belakang bangunan berupa lapangan sepak bola yang berdampingan dengan pemukiman warga (Sumber: Dok. Pribadi) Gambar 1.5. Bagian koridor kiri bangunan. (Sumber: Dok. Pribadi) Gambar 2.1. Lorong barat yang masih digunakan untuk akitivas warga. (Sumber: Dok. Pribadi) Gambar 2.2. Area tengah Rumah Sakit Kadipolo yang sudah dipadati semak belukar. (Sumber: Dok. Pribadi) Gambar 2.3. Lorong lain yang berada di koridor timur. (Sumber: Dok. Pribadi) Gambar 2.4. Bangunan yang merupakan bekas kamar jenazah 2. (Sumber: Dok. Pribadi) Gambar 2.5. Proses kunjungan ke Rumah Sakit Kadipolo (Sumber: Dok. Pribadi) Gambar 2.6. Proses wawancara warga setempat bernama Agus. (Sumber : Dok. Pribadi) Gambar 3.1. Diskusi sejarah Rumah Sakit Kadipolo & eksistensi Arseto dengan Puspanaden, warga setempat dan mantan permain Arseto. (Sumber : Dok. Pribadi)