JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Di malam itu, gerimis jatuh tanpa suara, seperti bulir air yang lupa bergemerisik. Angin dingin menyusup dari sela pepohonan cedar di sepanjang jalan setapak menuju Desa Mikado, menyelimuti desa dengan keheningan yang meresahkan. Shinohara Isamu merapatkan jaket wolnya, kedua tangannya gemetar, bukan karena cuaca, melainkan rasa cemas yang tak ia mengerti sepenuhnya. Ia hanya ingin cepat pulang ke rumah setelah seharian bekerja di kedai teh yang terletak di tepi desa. Jalan setapak itu memang sepi, bahkan di siang hari. Malam membuatnya terasa seperti koridor panjang tanpa ujung. Isamu melangkah lebih cepat, derap kakinya menggema samar, seolah ada langkah kaki lain yang menyusul di belakangnya. Setiap kali ia berhenti dan menoleh, tak ada siapa pun. Namun, setelah beberapa kali begitu, ia melihatnya. Seorang pria tua, mengenakan kimono lusuh, berdiri di ujung jalan. Ia membelakangi Isamu, tubuhnya membungkuk sedikit, seperti menunggu sesuatu. “Sumimasen, ojii-san. Anda butuh bantuan?” tanya Isamu hati-hati, rasa penasaran dan kewaspadaan bercampur jadi satu. Pria tua itu perlahan berbalik. Wajahnya terlihat jelas di bawah remang lampu jalan: polos, tanpa mata, tanpa hidung, tanpa mulut—hanya permukaan kulit pucat yang halus dan tak berwarna. Isamu terkesiap dan mundur beberapa langkah, jantungnya berdegup cepat. Namun, anehnya, pria tanpa wajah itu hanya berdiri di sana, tak bergerak, tak mengancam. Ia sekadar ada, seolah kehadirannya cukup untuk membuat ketakutan menelusup ke dalam tulang. Dengan napas terengah, Isamu berbalik dan berlari sekuat tenaga menuju desa. *** Isamu tiba di rumahnya dengan dada masih bergemuruh. Ia menutup pintu dengan kasar dan menyandarkan tubuh pada dinding. Kakaknya, Shinohara Akemi, yang sedang duduk di lantai sambil mengikat rambutnya, menatap Isamu heran. “Kenapa kau? Kau terlihat seperti habis melihat hantu,” kata Akemi, mengangkat alis. “Di jalan… Aku melihat…” Isamu berhenti sejenak, mencoba menyusun kata-kata. “Seorang pria tanpa wajah.” Wajah Akemi mengeras. “Noppera-bō?” gumamnya. Isamu mengangguk, napasnya masih belum teratur. “Kau tahu tentang mereka?” Akemi menunduk, wajahnya tiba-tiba tampak tegang. “Itu hanya legenda,” katanya cepat, berusaha menenangkan, meski suara dan sorot matanya menyiratkan sebaliknya. “Mungkin kau hanya lelah.” Namun, Isamu tak bisa menghilangkan rasa takut dan dingin yang bercampur aduk menguasainya. Mimpi buruk menghantui tidurnya malam itu, bayangan wajah polos tanpa ekspresi selalu muncul di setiap sudut pikirannya. *** Isamu memutuskan untuk tak lagi melewati jalan setapak itu. Ia memilih jalur memutar meskipun lebih jauh, merasa lebih aman. Namun, rasa aneh masih mengikutinya, seolah ada sesuatu yang tak ia pahami sepenuhnya. Suatu malam, ketika ia kembali dari kedai, ia menemukan Akemi duduk sendirian di depan pintu rumah mereka. Tubuh Kakaknya membungkuk lemah, rambutnya acak-acakan. “Akemi?” panggilnya, perlahan mendekat. “Kau kenapa?” Akemi mendongak. Wajahnya… polos. Tanpa mata, tanpa hidung, tanpa mulut. Isamu tertegun. Pikirannya seketika kacau, mencoba menolak kenyataan yang ada di depan matanya. Tapi kemudian, sosok Akemi itu tiba-tiba berubah lagi—wajahnya kembali seperti semula, dengan senyuman lembut yang biasa. “Kau… Kau baik-baik saja?” tanya Isamu, gemetar. Akemi hanya tersenyum tipis. “Mungkin hanya lelah.” *** Selama beberapa hari berikutnya, Isamu merasa dunianya mulai terurai. Wajah orang-orang di sekitarnya—teman di kedai, tetangga, bahkan pelayan di toko—terkadang berubah sekejap, menjadi polos tanpa ekspresi sebelum kembali normal. Ia merasa seperti terjebak di antara dua realitas. Isamu akhirnya memutuskan untuk mencari bantuan pada seseorang yang dianggap tahu soal mitos lokal. Ia mendatangi seorang pendeta tua bernama Kanzaki. “Tak ada yang bisa lari dari Noppera-bō,” kata Kanzaki, menatap Isamu dalam-dalam. “Mereka bukan sekadar hantu. Mereka mencerminkan siapa dirimu. Ketika kau melihat wajah tanpa identitas, sebenarnya kau sedang melihat dirimu sendiri—seseorang yang kehilangan jati diri dan arah.” Kata-kata itu membuat kepala Isamu berdenyut. Ia merasa seperti seseorang yang terjebak dalam cermin, tak tahu lagi mana yang nyata dan mana yang ilusi. *** Malam berikutnya, saat Isamu kembali pulang, jalan setapak terasa lebih sunyi dari biasanya. Tanpa ia sadari, kakinya membawanya ke jalur yang sama—jalur di mana ia pertama kali melihat pria tanpa wajah itu. Di sana, di ujung jalan, ia melihat sosoknya sendiri berdiri. Sosok itu menatap Isamu dengan wajah polos tanpa ekspresi. Dan ketika Isamu menyadari apa yang terjadi, semuanya terlambat. Wajahnya sendiri mulai menghilang, terhapus perlahan—tak berwajah.