Netral English Netral Mandarin
00:20wib
Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan-Ahmad Riza Patria memastikan tidak akan menghadiri kegiatan Reuni 212. Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid mengatakan masalah dengan Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani terkait tata krama dalam hubungan kelembagaan.
Miris! Usai Tewas Bersama Selingkuhan Tercinta, Arwah Sejoli Dikabarkan Gentayangan

Jumat, 05-Maret-2021 17:26

Ilustrasi kondisi Perkampungan Mirit, Kebumen
Foto : Lamudi
Ilustrasi kondisi Perkampungan Mirit, Kebumen
103

KEBUMEN, NEYRALNEWS.COM - Hawa dingin musin penghujan menyergap warga desa. Pukul 22.00, nyaris hanya sepi yang disajikan malam. Sesekali hanya tampak dua orang peronda, penjaga keamanan warga. 

Perkampungan Mirit di Kecamatan Mirit, Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah kini tengah disergap rintik hujan. Mayoritas warga tidur pulas di dalam rumah yang antar berjarak cukup jauh. Bila siang hari, perkampungan ini terlihat asri. 

Namun, di malam hari tampak lengang dan menyimpan sejuta misteri yang hingga kini menjadi buah bibir warga masyarakat di Kebumen. Konon, perkampungan Mirit angker. Pasalnya, di sini ada sejarah kelam yang sayangnya tak tercatat. 

Yang tersisa adalah carita dari bibir mulut yang satu merembet ke kuping orang lain. Generasi penguping kemudian makin membesar dan tersebar. Alhasil, stigma Kampung Mirit angker dan banyak arwah gentayangan, hingga kini sering terngiang. 

"Pak Pardi mendiang perangkat desa di wilayah sini dirampok. Tragis karena, pelakunya ternyata tetangga sendiri. Motifnya ada dua, selain mau rampas hartanya, juga si perampok ternyata sudah lama berselingkuh dengan istri muda Pak Pardi," kata Sentiko (65), seorang petani di kampung Mirit kepada Netralnews beberapa waktu silam.

Sentiko dipangil warga dengan julukan Eyang Sentiko. Beliau dituakan karena selain berumur juga konon pernah ikut berguru pada orang-orang yang dianggap sakti oleh warga sekitar.

"Kampung sini terkenal sebagai perampok atau begal, Mas. Memang dahulu begitu. Sudah berlangsung sejak zaman Belanda. Dulu banyak orang sini di siang hari biasa beraktivitas layaknya petani pada umumnya. Tapi malam hari mereka berubah profesi," tutur Sentiko.

Meski sudah lebih dari setengah abad, Sentiko terlihat masih gagah. Tulang-tulangnya kekar dan besar. Bisa jadi, ia memiliki darah campuran.

"Ya, begitulah, kalau orangtua bilang, kami keluarga punya darah keturunan campuran Belanda. Karena leluhur saya katanya pernah menjadi gundik tuan Belanda di salah satu pabrik gula. Zaman itu kan memang banyak yang jadi istri tak resmi orang Belanda," tuturnya. 

Memang, praktik pergundikan di zaman VOC hingga Hindia Belanda tak bisa dipungkiri pernah berlangsung di berbagai daerah dan baru berkurang secara perlahan ketika banyak perempuan Eropa didatangkan ke Nusantara.

Sayangnya, Sentiko tak bisa mengisahkan bagaimana persisnya leluhur mereka dahulu menjadi gundik orang Belanda.       

"Sepotong-sepotong saja yang masih saya terima ceritanya. Dulu, ibu dari nenek saya menjadi pembantu di pejabat pabrik gula. Dulu namanya baboe. Posisinya lemah. Harus nurut majikan. Kalau malam diminta mijiti. Kalaupun berlanjut di ranjang, ya harus turuti tuan Belanda. Dan jadilah mengandung. Lahirlah nenek saya," kata Sentiko menuturkan.

Sementara waktu terus berjalan dan ibu dari nenek Sentiko terus beranak pinak, hingga beberapa keturunan tinggal di Perkampungan Mirit.

Di wilayah sini hanya mayoritas petani. Tapi uniknya ada semacam gerakan rahasia untuk mengembangkan ilmu kanuragan yang fungsinya untuk menggarong, merampok, dan membegal orang-orang kaya, terutama para pegawai Belanda. Gerakan ini tersembunyi," kata Sentiko.

"Seperti dinia siang dan dunia malam. Siang petani, malam perampok. Dan hari tertentu ada latihan kanuragan dan kekuatan supranatural. Kesaktian begitu. Dibacok tak mempan. Namun tetap ada kelemahan dan pantangan. Saat tertentu, orang tetap saja tak kebal. Tetap bisa tertembak peluru marsose dan mati," kata Sentiko. 

Singkat cerita, menurut penuturan Sentiko, perkumpulan itu diam-diam sering merampok orang-orang kaya di wilayah Kebumen maupun Purworejo, Jawa Tengah. Hasilnya sering dibagi merata untuk seluruh keluarga anggota. 

"Sampailah pada suatu masa di mana salah satu pemimpin perkumpulan ini, sebut saja namanya Pardi (samaran, red). Dia semacam ketua perampok. Sakti. Namun kena apesnya juga oleh anggota lain yang ternyata di kemudian hari diketahui adalah tetangganya sendiri, sesama perampok," tutur Sentiko.

Menurut cerita Sentiko, kejadian itu berlangsung sekitar tahun 1950-an. 

"Saya masih kecil. Tapi dapat cerita dari orangtua saya di kemudian hari," kata Sentiko memperjelas kapan peristiwa itu terjadi. 

"Jadi, Pak Pardi ini tamak, rakus, tak adil membagikan hasil rampok. Munculah kecemburuan. Ditambah lagi, ia memiliki empat istri. Istri muda yang terakhir ini hasil dijodohkan oleh orangtua pihak perempuan. Artinya bukan suka sama suka," lanjut Sentiko. 

"Si perempuan ini sudah punya pacar. Masih muda, sekitar usia 16 tahun. Nah, meski sudah dinikahi Pardi yang sudah usia 45 tahun, ia masih menjalin hubungan gelap dengan pemuda pacarnya. Pemuda atau pacarnya ini juga sudah mulai gabung menjadi anggota rampok.," kata Sentiko.

Masih menurut cerita Sentiko, suatu hari  perselingkuhan istri muda Pardi menimbulkan pertumpahan darah. 

"Si pemuda ini gelap mata. Selain kesal dengan keserakahan Pardi, ia juga nekat ingin merebut istri mudanya yang merupakan pacarnya. Di suatu malam terjadilah drama perampokan di rumah Pardi," lanjut Sentiko. 

"Pemuda itu menyamar jadi perampok seorang diri. Namanya masih ingusan, kalah dengan ketua perampok. Singkat kata tertangkap. Pemuda itu dibacok dan tewas di rumah Pardi dengan disaksikan istri mudanya. Tapi tak berhenti sampai di situ," tutur Sentiko. 

"Pardi terkejut, ketika kain penutup muka dibuka, ternyata si perampok adalah pemuda yang sudah ia kenal betul. Belum selesai terkejutnya, istri mudanya tiba-tiba menjerit lalu mengambil parang milik suaminya dan nekat menebas lehernya sendiri. Nyawanya akhirnya tak tertolong." kata Sentiko. 

"Pagi itu desa geger. Orang berdatangan. Ayah pemuda datang. tahu anaknya tewas, naik pitam. Warga tak bisa mencegah ketika ayah pemuda itu kemudian ngamuk membabibuta dan membunuh Pardi. Namun, karena Pardi juga jagoan, ayah pemuda itu terluka parah. Tiga hari berikutnya, ayah pemuda itu juga meninggal," tutur Sentiko. 

"Nah sejak itulah, di wilayah perkampungan sini, selain ditakuti dan terkenal sebagai kampung perampok, juga dikenal angker. Pasalnya setelah peristiwa malam berdarah itu, banyak warga sering melihat penampakan sosok hantu sepasang pemuda dan pemudi," kata Sentiko. 

"Mata dan kepala saya pernah melihat sendiri. Suatu malam, sekitar pukul 20.00, saat mencari air untuk sawah, munculah penampakan sepasang pemuda pemudi di lokasi tak jauh dari bekas rumah Pak Pardi. Saya kira pemuda pacaran. Karena malam hari, saya tegur," kata Sentiko. 

"Mas, Mbak, dah malam, pulanglah. Tak baik berdua di remang-remang pinggir desa. Kasihan bapak ibu Mas dan Mak, mungkin mencari-cari," kata Sentiko mengenang saat itu. 

Permintaan Sentiko tak ditanggapi dan sejoli itu tetap diam saja sambil menundukkan kepala. Namun betapa terkejutnya Sentiko saat mendekat dan sejoli itu mengangkat muka.

"Kan remang, tapi masih terlihat jelas dari lampu senter saya. Perempuan dan lelaki muda itu mendongak. Lehernya menganga dan berdarah-darah. Astafirullahalazim..., jantung saya mau putus rasanya. Saya langsung menutup muka dan membaca doa. Anehnya saat membuka mata, sejoli itu hilang dari dapan saya. Hilang seketika," kata Sentiko gelengkan kepala menggambarkan kengerian yang dulu ia alami. 

"Saya tak tahu apakah yang saya lihat ada hubungannya dengan peristiwa berdarah di rumah Pak Pardi. Namun, banyak warga di desa sini sering menganggap, penampakan sosok pemuda dan pemudi misterius itu adalah arwah gentayangan sepasang pemuda pemudi di malam berdarah itu," kata Sentiko yang berulang kali sempat meminta penulis menyeruput kopi yang ia sajikan di meja ruang tamu rumahnya.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto

Berita Terkait

Berita Rekomendasi