SOLO- Wiji Thukul merupakan aktivis prodemokrasi yang dihilangkan secara paksa pada rezim Orde Baru. Ketika pemerintah dengan gencarnya menyuruh Kopassus untuk menangkap terhadap sejumlah aktivis PRD (Partai Rakyat Demokratik) yang dinyatakan terlarang, Thukul yang berada di Solo juga tidak lepas dari kejaran pemerintah. Tetapi, ketika rezim Orde Baru tumbang, Thukul tidak kembali. Biografi Wiji Thukul Thukul merupakan anak dari Kemis Harjosuwito seorang tukang becak dan ibunya, Sayem yang terkadang berjualan ayam bumbu. Ia dilahirkan di Sorogenen, Solo pada 26 Agustus 1963. Setelah lulus dari SMP 8 Solo, Thukul melanjutkan sekolahnya di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia, Jurusan Tari tetapi tidak sampai lulus di Kepatihan, Solo. Ia menikah dengan Siti Dyah Sujirah atau Sipon pada Oktober 1988. Perkenalannya dengan Sipon juga bermula ketika kampung mereka dilanda banjir, waktu itu Sipon ikut membantu tetangganya yang kebanjiran. Ia melihat pria “aneh” itu hanya sibuk memotret para korban. Karena merasa kesal denga tingkahnya, ia sempat menghardiknya untuk membantu juga. Dari sini, ia mulai melihat Thukul latihan puisi di Teater Jagat asuhan Lawu yang tidak jauh dari halamannya, Jagalan. Ketika melihat Thukul latihan, Sipon merasa kasihan terhadapnya. Pada waktu itu, Thukul memerankan sosok raja, sehingga ia tidak bisa mengucapkan huruf “r” dalam dialog ”Akulah raja!”. Lawu juga memaksa Thukul agar bisa mengucapkannya dengan fasih, meskipun ia tetap pelo. Pertemuannya dengan Thukul, Sipon akhirnya berkenalan dengannya. Sampai suatu ketika Thukul berpacaran Sipon. Pada akhirnya ia sempat mau dijodohkan dengan wanita lain. Sehingga Thukul meminta Sipon untuk segera menikah, tetapi ayahnya sempat tidak menyetujuinya. Dari pernikahannya, Thukul memiliki dua anak: Fitri Nganthi Wani dan Fajar Merah. Bagi Sipon, Thukul bukan tipe orang yang begitu romantis. Bahkan ia hanya sering berdiskusi dengan Sipon masalah rakyat miskin. Walaupun begitu ia tetap perhatian terhadap istrinya, ia juga membantu Sipon di rumahnya seperti menjahit. Setelah hidup berkeluarga, Thukul tidak lantas berhenti menulis puisi untuk memperjuangkan kaum buruh dan rakyat miskin. Sampai di suatu ketika, Thukul mendirikan Sanggar Suka Banjir. Adapun nama sanggar diambil dari kenyataan kampung halamannya yang langganan banjir. Dari sini, Thukul mulai mengenal dengan para kalangan aktivis pergerakan dan mendirikan Jaringan Kesenian Rakyat (Jaker). Selanjutnya, pada 1994, Thukul bersama Jaker secara resmi masuk menjadi bagian dari Partai Rakyat Demokratik. Pada waktu itu, Thukul sudah jarang pulang ke rumahnya. Semuanya mulai berantakan pada Agustus 1996, para aktivis PRD di berbagai daerah dikejar-kejar aparat keamanan setelah terjadi kerusuhan di Jakarta Thukul tak luput dari kejarannya yang kemudian dikenal dengan kerusuhan 27 Juli 1996. Perjalanan kepenyairan Wiji Thukul bermula ketika ia bergabung dengan Teater Jagat asuhan Cempe Lawu Warta Wisesa yang merupakan anak asuh dari WS Rendra pada 1981. Dari sini kemudian Lawu mengubah nama aslinya, Wiji Widodo yang kemudian diubah menjadi Wiji Thukul “Biji Tumbuh”. Ini merupakan tradisi dari WS Rendra yang mana nama Lawu Warta juga pemberiannya, sedangkan Cempe merupakan nama panggilan di kampung halamannnya. Lawu mengajarinya kesenian seperti anak-anak Jagat lainnya. Hanya, Lawu menemukan kesulitan karena Thukul tidak bisa menyanyi. dalam bidang musik, Thukul juga tidak peka. Dia juga tidak bisa berteater, meskipun masuk SMKI jurusan tari. Lalu dalam bidang vokal, Thukul lebih sulit karena sangat pelo—tidak bisa melafalkan “r” alias cadel. Namun, Lawu menemukan bakat Thukul di bidang puisi. Lawu sangat keras menggembleng Thukul. Untuk mengurangi “kepeloan” Thukul, Lawu memaksanya dengan cara mengucapkal lafal sejelasa dan sekeras mungkin. Untuk memupuk mental murid-muridnya, Lawu mengajak mereka mengamen puisi keliling Solo dengan sajak-sajaknya sendiri. Boleh dibilang Lawu berhasil menempa Thukul. Sejak aktif di Jagat, Thukul memutuskan berhenti sekolah. Di teater Jagat, Thukul mulai produktif membuat puisi. Menurut Lawu, puisi-puisi awal Thukul adalah puisi kontemplatif tentang dirinya dan lingkungannnya. Selain Lawu, Thukul juga sangat dekat dengan Pardi. Sehingga beberapa puisinya ada yang memiliki kesamaan, misalnya dalam puisi “Peringatan”. Dalam puisi Pardi “Sumpah Bambu Runcing” oleh Thukul diambil “Hanya ada satu kata: Lawan!” yang digunakan untuk perjuangan buruh. Sehingga, Thukul banyak dipengaruhi kata oleh Pardi. Selain di Jagat, Thukul juga mengirim puisinya ke Radio PTPN Rasitania, Surakarta. Menurut Hanin, puisi Thukul bermuatan religius, seperti Senja Tetes-tetes. Thukul juga pertama kali menerbitkan puisi berjudul puisi Pelo lewat Pusat Kesenian Jawa Tengah (PKJT) di Solo—sekarang Taman Budaya Jawa Tengah di surakarta (TBS)—sekitar 1985. Menurut Siliyanto, karakter puisi Thukul dalam kumpulan Puisi Pelo sudah lebih lugas dibanding puisi-puisi awalnya yang pernah dibacakan di Radio PTPN. Pasca Pelo, pada sekitar 1986, Thukul mulai kenal dengan Halim HD, aktivis kebudayaan jebolan Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Halim HD merupakan seorang seniaman yang mempunyai banyak teman di Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Malang, Bandung, dan Surabaya. Boleh dibilang Halimlah yang membuka wawasan dan jaringan Thukul. Halim pertama kali kenal dengan Thukul di Teater jagat. Waktu itu ia sering mampir ke Jagat. Perkenalannya denga Thukul bermula ketika ia ingin meminjam buku kepada Halim, merasa serius ingin membaca buku, Halim memberikannya. dari pertemuannya dengan halim, Thukul selalu berdiskusi mengenai buku yang dibacanya. Menurut Halim, puisi Thukul setelah Pelo mulai mengalami perkembangan, misalnya dalam puisi Bunga dan Tembok. Hubungan Halim dengan Thukul kian akrab. Pada tahun 1986-1987, Thukul di bantu Halim mulai mengamen puisi keliling kota di Jawa Tengah dan Jawa Barat, dari Solo, Yogyakarta, Semarang, Pekalongan, Tegal, Cirebon, hingga Bandung, serta Jakarta. Sejak mengamen keliling jawa, nam Thukul semakin berkibar. Pada periode itulah Thukul berbeda wawasan denga Lawu, gurunya di Teater Jagat. Lawu tidak sepakat jika Thukul membawa puisi ke ranah politik praktis. Dan Thukul bersikap sebaliknya, mengatakan bahwa sikap Lawu adalah sikap orang lemah dan tidak progresif. Sejak saat itu Thukul tidak aktif lagi di Teater jagat. Selanjutnya, Thukul bersama Sipon dan Halim mendirikan Sanggar Suka Banjir. Dalam Sanggar Suka Banjir, Thukul mengajari anak-anak menyanyi, puisi, teater, dan melukis. Pada tahun 1993, Thukul bersama tiga sahabatnya Moelyono dan Semsar berada di Pantai Brumbun, Jawa timur. Mereka membahas tentang aksi pembubaran pameran seni instalasi patung Marsinah di Surabaya. Dalam diskusi tersebut, Semsar mengusulkan membuat jaringan kerja seniman, menggalang kekuatan dan solidaritas sesama seniman untuk membendung tindakan represif pemerintah. Akhirnya pada 1994, mereka sepakat membuat gerakan kesenian dengan membangun jaringan komonitas kesenian rakyat. Namanya Jaringan Kesenian Rakyat (Jaker). Tidak hanya beranggota seniman, Jaker juga sebagian anggotanya adalah Partai Rakyat Demokratik. Menurut Linda, Jaker adalah onderbouw PRD. Dengan sepihak, akhirnya Thukul dan PRD memasukkan Jaker yang diketuai oleh Thukul baik secar organisasi dan politik bergabung dengan PRD. Semsar, Moelyono, dan Hilmar memutuskan tidak bergabung lagi dengan Jaker. Begitu Juga Lawu yang sangat menyayangkan terhadap sikap keputusan Thukul. Jejak Pelarian Wiji Thukul Kerusuhan bermula ketika kantor Partai Demokrasi Indonesia di serbu oleh Soerjadi dibantu tentara di jalan Diponegoro, Jakarta. Menurut Kepala Staf Bidang Sosial dan Politik ABRI Letnal Jenderal Syarwan Hamid, bentrokan terjadi karena di dalangi oleh Partai Rakyat Domekratik atau PRD. Setelah kerusuhan 27 Juli 1996 itu, para aktivis PRD, baik di Jakarta maupun daerah-daerah dikejar polisi dan tentara. Tidak heran jika Thukul pada waktu itu ada di rumahnya tak luput dari sasaran polisi. Dari sini kemudian Thukul menjadi buronan polisi dan tentara. Pada awal Agustus pelarian Thukul bermula dari Solo ke Wonogiri, lalu ke Yogyakarta, Magelang, dan Salatiga. Thukul menumpang persembunyaiannya kepada kenalan atau aktivis PRD lainnya. Pada pertangahan Agustus, Thukul menemui adiknya, Wahyu Susilo di Jakarta. Lalu ia disembunyikan di Bojong Gede, Bogor, kemudian di Kelapa Ganding, Jakarta Timur dan Serpong Damai, Tanggerang selama satu-dua pekan. Tatapi kemudian Thukul sempat di bawa tim evakuasi ke Bandung. Dalam pelarian, Thukul menyamar dengan menggunakan jaket atau kacamata. Ia sangat mudah di kenali dari cara bicaranya, karena cadel. Juga pada waktu itu, mata kanan Thukul terluka karena demo aksi buruh PT Sritex 1995. Meskipun begitu, dalam pelariaannya Thukul banyak menulis puisi, misalnya: Para Jenderal Marah-marah, Aku Diburu Pemerintahku Sendiri, Kado untuk Pengantin Baru. Pada akhir Agustus 1996 Thukul dilarikan ke Kalimantan, dan disana Thukul sempat mengubah namanya menjadi Paulus—yang mengaku sebagai penjual bakso—sampai membuat KTP di daerah tersebut. Tidak hanya nama itu, Thukul juga mengubahnya dengan nama Aloysius Sumedi dan Martinus Martin (sebagai rohaniwan). Thukul sempat kembali lagi ke Solo pada Januari 1997 untuk menemuai istrinya Sipon. Perjalanan pelarian Thukul tidak hanya berhenti disini. Pada Maret 1997 Thukul kembali lagi ke Jakarta dan aktif di PRD sebagai Ketua Divisi Propaganda dan editor Suluh Pembebasan. Thukul kemudian pindah ke Pekayon—serta mengajak istri dan anaknya—kontrakan aktivis PRD, lalu Bekasi, dan Rumah Susun Kemayoran. Agustus 1997, Thukul mengaku kepada adiknya bahwa ia berada di Tanggerang bersama Linda Christanty untuk mengorganisir buruh dan tukang becak. Thukul sempat tinggal di Karawaci, rumah kontrakan bersama Lukman dan Andi Gembul. Kemudian Thukul meminta izin kepada Linda untuk pulang ke Solo menemui istri dan anaknya yang berulang tahun yaitu Fajar Merah, November 1997. Pertemuan kembali dengan istri dan anaknya terjadi ketika berada di Yogyakarta dan tinggal satu pekan untuk melepaskan kangen kepada keluarganya di Parangtritis, Desember 1997. Januari 1998, Thukul juga sempat pindah ke Cikokol dan menelepon adiknya bahwa ia hendak pulang ke kampung halamannya untuk berlebaran. Thukul sempat menelepon Lawu menanyakan kabar Sipon dan anaknya. Thukul juga memberi kabar kepada Lawu bahwa ia berada di Bengkulu-Sumatera dan berpesan untuk menitipkan anaknya, April 1998. Pada Mei 1998, Thukul menelepon Sipon, menanyakan keadaannya karena waktu itu Jakarta dan Solo terjadi kerusuhan. Setelah kerusuhan itu, Thukul hilang, menurut aktivis PRD mengatakan bahwa ia aman bersama keluarganya tetapi Sipon berperasangka sebaliknya. Maret 2000, Sipon melaporkan hilangnya Thukul ke Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras). Hilangnya Wiji Thukul Tim Mawar yang dipimpin Mayor Jenderal Prabowo Subianto, melibatkan Kapten Djaka Budi Utama selaku personel Kopassus bersama 10 prajurit lainnya divonis bersalah menculik sembilan aktivis tetapi karier anggota Tim Mawar tetap hidup walau tersendat. Sebagian masih bekerja di lingkungan Prabowo. Tim Mawar berada dalam penculikan para aktivis, nama thukul berulang kali didebut saat mengintrogasi korban penculikan. Jadi, Thukul sudah sejak lama menjadi target operasi. Misalnya ketika Nezar Patria diculik, mengatakan bahwa saat tim penculik menyiksanya bertubi-tubi seraya menanyakan Wiji Thukul. Kalau Nezar tidak menjawab pertanyaannya, pukulan akan dilayangkan ke tubuhnya. Pertanyaan penculik itu membuat Nezar paham: Wiji Thukul adalah target operasi. Tidak hanya Nezar, Sipon juga pernah diintrogasi di koramil Jebres, Solo. Adik kandung Thukul, Wahyu Susilo tidak luput dari perburuan aparat keamanan. Nama Thukul, kata salah satu jenderal saat itu, masuk daftar target operasi intelijen. Mereka memberikan cap kepada Jaker yang dipimpin Thukul sebagai jelmaan dari Lekra, organisasi yang berafiliasi dengan PKI. Adapun PRD dianggap sebagi jelmaan partai tersebut. Menurut Jacobus, Wiji ada kemungkinan hilang dalam operasi intelijen besar-besaran yang dilakukan di Solo beberapa pekan sebelum Sidang Umum MPR 1998. Mayor Bambang Kristiono mengatakan bahwa penculikan datang dari inisiatif dirinya, ia khawatir terhadap aktivis radikal yang mengganggu stabilitas nasional. Pernah ada desas-desus bahwa Thukul kembali pada 2006, Mugi mendengar kabar bahwa ada orang yang mirip di Depok, Jawa Barat. Ketika dicek ternyata hanya mirip. Sipon pernah ditelepon orang tak dikenal, ia meminta Sipon untuk tidak mencarinya lagi. Kesimpulan Wiji Thukul bersama para aktivis lainnya yang diculik sampai sekarang masih misterius dan mereka tidak di temukan sampai saat ini. Dari pelariannya untuk menghindari kejaran aparat keamanan, Thukul masih konsisten dalam menulis puisi, tidak heran jika puisi mengandung unsur politik. Sehingga ketika ia membacakannya di depan buruh dan mahasiswa, ia akan di cap sebagai agitator berbaya yang berusaha menghasut rakyat untuk menggulingkan Orde Baru. Daftar Pustaka Tim Tempo, Teka-Teki Orang Hilang, Jakarta: Gramedia, 2022.